PEMBELAJARAN PARTISIPATIF: MENJADI PEMBICARA YANG EFEKTIF DI DEPAN KELAS

Pembicara atau widyaiswara yang tidak berpengalaman seringkali sangat dihantui oleh perasaan gugup dan cemas pada saat sebelum mulai tampil berbicara di depan kelas. Agar pembicara atau widyaiswara dapat tampil menjadi pembicara yang efektif di depan kelas, maka pembicara atau widyaiswara perlu mengerahkan energinya ke dalam proses membangkitkan konsentrasi peserta kepada pendengarnya atau peserta diklatnya. Namun demikian pembicara disarankan juga harus menguasai materi pembelajaran ketika tampil berbicara di depan kelas.

 

Hal ini kedengarannya menakutkan, tetapi dalam kenyataannya mudah saja, apabila pembicara mampu mengembangkan ketrampilan agar mampu menjadi pembicara yang efektif di depan kelas adalah:

 

Pertama,

 

Pembicara perlu melakukan persiapan secara sistematis, yaitu:

 

(1) Pembicara hadir lebih awal di depan kelas sebelum jadual penyajian materi pembelajaran, agar dapat mengecek kesiapan kelas dan mental psikologisnya atau untuk mengurangi ketegangan.

 

(2) Menguasai materi yang akan disampaikan, artinya pembicara siap apa yang harus dikatakan dengan jelas dan secara otomatis mampu menemukan kata-kata yang tepat pada waktu pembukaan, pada saat pertengahan dan pada akhir pembicaraan.

 

(3) Pembicara perlu meletakkan semacam catatan kecil yang berisikan inti sari materi pembelajaran untuk membantu mengingat dihadapannya.

 

Kedua,

 

Pembicara perlu mengembangkan teknik yang akan membantu dalam menguraikan materi pembelajaran dengan mudah, agar dapat diterima oleh peserta diklat, yaitu:

 

(1) Momen-momen penting dalam pembicaraan: pada tahap pembukaan, pembicara perlu menanamkan kesan pertama yang baik dalam membina hubungan dengan peserta diklat, dengan menggunakan energinya, yaitu mulailah dengan senyum dan dalam waktu yang tepat mulailah berbicara. Selain itu busana dan penampilan pribadi juga merupakan pelengkap citra yang perlu diciptakan. Cara ini berfungsi untuk membangkitkan konsentrasi dan mempertajam perhatian para peserta diklat pada tahap awal yang singkat, dengan konsentrasi tinggi. Oleh karena itu pergunakanlah kesempatan ini untuk menggambarkan keseluruhan pokok-pokok materi pembelajaran kepada peserta (memberikan uraian secara garis besar) dan mengukuhkan kepercayaan peserta dengan cara penyampaian yang meyakinkan.

 

(2) Titik-titik penghubung untuk menyegarkan konsentrasi: pada tahap penyajian materi pembelajaran, di awal 30 menit pertama konsentrasi peserta akan mulai menurun. Oleh karena itu pembicara yang baik akan terus-menems berusaha menyegarkan kembali perhatian, minat dan konsentrasi peserta. Untuk memanfaatkan membangkitkan konsentrasi pembicara mulai mempersiapkan bagian materi berikutnya yang dilakukan secara jelas. Dengan demikian, pembicara harus berusaha agar peserta tidak terhanyut dalam suasana monoton. Usaha seperti ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, misal; dengan mengubah nada suara, menggunakan waktu untuk berhenti sejenak dan menggunakan ilustrasi yang ditayangkan secara jelas melalui alat bantu visual, menciptakan saling pengertian dan menghargai, membentuk pola komunikasi non verbal yang jauh lebih ampuh daripada sekedar kata-kata.

 

(3) Humor: cara lain untuk menghilangkan kejenuhan peserta diklat atau membangkitkan konsentrasi peserta diklat dapat juga dengan humor. Humor sangatlah bermanfaat untuk membuat peserta gembira dan senyum serta muncul hubungan akrab antara pembicara dengan peserta diklat. Oleh karena itu humor sangatlah produktif untuk mencegah terjadinya suasana monoton dalam kelas, tetapi perlu diingat sebaiknya materi humor diangkat dan suasana yang muncul dalam kelas, sehingga ada relevansinya dengan materi pembelajaran.

 

(4) Selesai tepat waktu: masalah waktu, sangat besar pengaruhnya dalam proses pembelajaran diklat. Pembicara yang efektif sangat sadar akan waktu yang digunakan untuk berbicara di depan kelas. Berbicara tentang masalah waktu dalam diklat, ada dua hal yang perlu diperhatikan pembicara, yaitu; waktu memulai dan waktu mengakhiri. Waktu memulai hendaknya jangan sampai terlambat. Diusahakan minimal 5 menit sebelumnya sehingga proses pembelajaran dapat dimulai tepat waktu. Tetapi sebaliknya, waktu untuk mengakhiri pembicaraan sebaiknya mengakhiri beberapa menit sebelum habis waktunya karena peserta diklat akan merasa kesal jika pembicara mengakhiri materi pembelajaran yang disampaikan jauh diluar batas waktu yang tersedia.

 

Ketiga,

 

Teknik memancarkan energi untuk menggugah konsentrasi peserta atau menarik perhatian peserta.

 

Ada beberapa cara untuk dapat menarik perhatian peserta, yaitu:

 

(1) Mengatur posisi tubuh: pembicara yang efektif di depan kelas, perlu tampak percaya diri dan ceria. Oleh karena itu perlu berdiri tegak, namun santai. Jika pembicara bergerak dalam radius satu meter, pembicara dapat tampak lebih percaya diri, tetapi jika pembicara berjalan naik turun mimbar maka terkesan akan sangat mengganggu.

 

(2) Gerak-gerik tubuh: pembicara yang terlatih akan banyak memanfaatkan gerak-gerik tubuh, agar tampak lebih ekspresif Gerakan tangan dapat sangat berguna, untuk itu tangan perlu digerakan diatas perut atau sejajar dada dengan disesuaikan kata-kata yang diucapkan dan suasana yang sedang diciptakan agar tampak lebih ekspresif.

 

(3) Kontak mata: kontak mata langsung sekitar satu detik bertatapan antara pembicara dengan peserta merupakan bagian penting dan interaksi pribadi. Pembicara perlu secara terus-menerus menarik dan memelihara kontak mata dengan peserta dengan menggunakan sesuatu yang sifatnya visual: alat peraga yang telah disiapkan sebelumnya untuk membina hubungan pribadi dengan peserta diklat. Oleh karena itulah kontak mata merupakan katalisator yang paling ampuh untuk membina hubungan pribadi antara pembicara dengan peserta.

 

(4) Suara: untuk memelihara perhatian dan konsentrasi peserta diklat, perlu menguasai empat variasi suara, yaitu kecepatan penyampaian (bagian yang cepat sebaiknya diikuti dengan bagian yang lambat), pola nada (mulai dengan suara dalam diantara tinggi dan rendah), kekuatan (ubah-ubahlah kekuatan suara) dan berhenti sejenak untuk mengumpulkan dan mencerna materi pembelajaran yang telah disampaikan.

 

Demikianlah ketrampilan dan teknik memancarkan energi untuk membangkitkan konsentrasi peserta diklat yang perlu dikuasai oleh pembicara agar berhasil tampil menjadi pembicara yang efektif di depan kelas. Selamat mencoba!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *