LIPUTAN PANDANGAN MATA DIKLAT P2K2 FDS PKH DARI HARI KE HARI BU KALAU HAMIL, BOLEH IKUT ?

Diklat kali ini memang beda dengan yang lain. Penekanan pada praktek langsung dan banyak brmin peran membuat diklat ini cukup melelahkan. Walau banyak ice braiking, tapi kalau tidak diberi tambahan energizer bagi peserta, maka motivasi akan turun dan berakhir anti klimak.

 

Dihari pertama nampak peserta begitu cerah ceria sebab pertemuan yang sudah lama mereka lakukan 7 tahun lalu, kini terulang kembali seakan sebuah reuni. Perjuangan panjang dan melelahkan dengan pengalaman lapangan masing-masing untuk mensukseskan program keluarga harapan, sangatlah berkesan bagi mereka. Tahun 2007 atau tujuh tahun lalu saat PKH diperkenalkan dan di jadikan program unggulan Kementerian Sosial seolah semua itu baru saja berlalu, padahal waktu bergumul dengan KSM nampaknya akan segera berakhir. Gambaran secara umum diklat Pertemuan Peningkatan Kemampuan Keluarga (P2K2) atau Family Development Session (FDS) Program Keluarga Harapan ini tak lain adalah untuk melanjutkan program PKH yang konon kabarnya akan segera berubah berakhir. Perlu diketahui bahwa sejak digulirkannya tahun 2007 pemerintah telah melakukan program bantuan tunai bersyarat dengan nama PKH, sebagai upaya membangun sistem perlindungan kesejahteraan sosial penduduk miskin sebagai upaya percepatan penanggulangan kemiskinan melalui program perlindungan sosial.Kini PKH yang sudah pada tahap masa transformasi, resertifikasi dan graduasi akan dipersiapkan untuk menjadi program yang lebih berkualitas, dimana peseta PKH akan lebih ditingkatkan kualitas hidupnya dalam bidang pendidikan, kesehatan, sosial ekonomi serta perlindungan anak.

 

Maka dari itu untuk mempersiapkan semua infrastruktur yang sudah ada maupun yang akan dibangun, petugas pendamping PKH sejak awal sudah mulai diberi modal pengetahuan tentang P2K2 atau FDS tersebut. Diklat ini merupakan awal dari pendamping PKH untuk mentranformasikan sebuah upaya bagi peserta PKH yaitu keluarga sangat miskin tersebut untuk bersiap-siap menerima program sejenis yang lebih baik dan jelas prospeknya. Kalaulah sekiranya nanti peserta PKH yang kini sudah solid dalam berkelompok, maka untuk pengembangan usaha ekonomi kemungkinan akan mudah dan punya prospek peningkatan lebih baik.

 

Diklat FDS ini berdurasi cukup lama yaitu 17 hari dengan 4 materi pokok yaitu modul pengasuhan anak,modul pengelolaan keuangan dan perencanaan usaha, modul gizi dan kesehatan serta modul pelindungan anak. Dari keempat modul ini, masing-masing mempunyai cara penyampaian kepada peserta PKH yaitu mengacu pada sesi-ses,i yang mana tiap sesi mempunyai judul permasalahan tersendiri pula. Kemudian tiap sesi juga mempunyai bahasan lagi berupa langkah-langkah, yang tiap sesi langkahnya berbeda -beda. Sedangkan untuk mengukur tingkat kefahaman pendamping dalam menerima diklat tersebut, tiap tiap modul dilakukan praktek lapangan, yaitu di desa yang sudah ditunjuk untuk menjadi ajang praktek peserta diklat.

 

MODUL 1Pada laporan pandangan mata ini kita mencoba melihat sejauh mana pelaksanaan tiap sesi dilakukan, sesuai dengan modul yang ada. Kelas FDS Angkatan I yang difasilitatori Achmad Buchori dan Joko Sumarno, memulai dengan memberikan penjelasan dan pengenalan Modul Pengasuhan dan Pendidikan Anak.

 

Pada pembahasan modul pertama yaitu pengasuhan dan pendidikan anak, oleh masing-masing fasiilitator yaitu Sri Cahyorini, Uji Hartono, Dinah Pangestuti, Achmad Buchori dan Joko Sumarno mereka memberi penjelasan tentng isi modul, kemudian sesi-sesi yang harus dilakukan, dan langkah konkrit yang akan dilakukan.

 

Joko Sumarno yang mengampu di kelas A dengan peserta berjumlah 28 mengawali materi berupa ice breaking berupa permainan konsentrasi. Dalam permainan ini peserta terlebih dahulu membentuk lingkaran besar. Untuk peserta yang salah mengucapkan angka sesuai urutannya yang juga dibarengi tepukan tangan, maka ia maju kedepan dan mendapat hukuman sesuai kesepakatan bersama. Dan lima orang pada permainan itu mereka mendapat hukuman, yang kemudian mereka disuruh menyanyi dan joget bersama. “Kalau salah lagi, nanti maju lagi ya Tri,” ujar Joko Sumarno kepada Tri Apriliyanto dari Kabupaten Ngawi.

 

Setelah pemanasan selesai Joko Sumarno mulai memberikan penjelasan tentang modul pengasuhan pendidikan anak. Sesuai petunjuk yang ada pada jadwal yang telah disepakati, maka hari itu Joko Sumarno mengatakan, “Setelah penjelasan dan pengenalan modul ini kita lakukan, maka akan berlanjut pada simulasi sesi 1, yang mana tiap simulasi diikuti oleh 3 kelompok,” ujarnya. Karena tiap kelas berjumlah 28 orang, maka tiap kelompok masing-masing berjumlah 9 dan 8 orang.

 

Pada modul pertama ini memiliki tujuan untuk mengkatkan pemahaman orng tua tentang pentingnya menerapkan pola asuh yang baik di rumah dan pentingnya pendidikan untuk kesuksesan anak di masa mendatang. “Jadi nanti kalian di lapangan dalam menyampaikan modul ini, diharapkan penyampaiannya dilakukan secara berurutan dari sesi 1 ke sesi selanjutnya, “ ujar Joko Sumarno di depan kelas.

 

Dimulai dengan penjelasan sesi 1 seperti tampak pada layar LCD, Joko Sumarno bertutur kata tentang topik menjadi orang tua yang lebih baik. “Tujuan sesi 1 adalah membangun kesadaran peserta mengenai pentingnya peran mereka sebagai orng tua dan pengaruh mereka terhadap tumbuh kembang anak. Juga membangun kesadaran untuk menggunalan pola pengasuhan yang lebih positif.” Ujar Joko Sumarno

 

Sesi 1 yang berduasi 120 menit itu diterangkan melalui powerpointnya, Joko menjelaskan langkah-demi langkah. “ Pembukaan tak bisa lebih dari 10 menit,” ujar Joko Sumarno. Kemudin dijelaskan pada langkah terakhir yaitu penutupan juga diberi waktu 10 menit. “Isinya nanti keluarga mendapatkan pesan yang penting yaitu mengasuh anak adalah tugas bersama-sama antara ayah dan ibu. Oleh karena itu saya minta kalian untuk menyampaikan kepada pasangan keluarga agar diberi motivasi mengasuh kelaurga yang baik, “ tuturnya.

 

Setelah dijelaskan oleh Joko Sumarno, suasana kelas dikuasai oleh Achmad Buchori yang akan memberikan penjelasan dan praktek secara nyata. Namun sebelum kegiatan simulasi sesi 1 dimulai, terlebih dahulu diadakan ice breaking kembali, yaitu dengan pola outbound stil menghadap kekanan dan saling pukul pundak perta di depannya, sambil bernyanyi dan goyang.Suasana makin seru karena, masing-masing peserta melakukan pijatan pundak yang berbeda dan bercampur antara peserta pria dan wanita.

 

Pada simulasi sesi 1 ini oleh Achmad Buchori, peserta dibagi dalam 3 kelompok besar, masing-masing 8-9 orang. Untuk tiap kelompok, peserta diwajibkan memainkan peran yang ada pada buku modul dan panduan. “Nanti tiap langkah mohon disesuikan dengan waktu yang telah disepakati yaitu 120 menit untuk satu sesi, jadi jangan sampai lebih atau kurang, “ katanya.Kelompok 1 yang berada di ruang kelas diikuti oleh 10 orang pria dan wanita. Di situ semua peserta diwajibkan memainkan peran sebagai peserta PKH, layaknya mereka menjadi orang miskin dan ibu-ibu yang berlagak lugu.

 

Seperti Abdul Wahab, dari Lamongan berperan sebagai pendamping yang nanti akan menjelakan kepada peserta PKH. “ Ibu-ibu sekarang kita buat kelompok kecil ya, masing-masing 3 orang, setelah itu masing-masing kelompok berdiskusi tentang dua hal yang paling membahagiakan dan satu hal yang menyulitkan dalam keluarga,” tutur Abdul Wahab. “ Tidak usah malu ya bu, pokoknya apa yang diingat disampaikan, mengerti to,” tambahnya kembali. “ Ya bu, kalau kematian apa juga termasuk sesuatu yang menyedihkan,” tanya Bu Pardi. “Kalau itu memang menyulitkan ya ditulis saja, nanti dibicarakan bersama,” jawab Abdul Wahab.

 

Sedangkan kelompok 2 yang lain juga melakukan hal yang sama, mereka bermain peran layaknya orang desa yang miskin dan menjadi peserta PKH, dan hampir semua peserta bertindak sebagai ibu rumah tangga. Pada adegan ini, Nur Hidayat dari Bojonegoro menerangkan untuk langkah 4, yaitu orang tua yang baik penuh kasih sayang dan tidak melakukan kekerasan. Untuk lebih jelasnya Nur Hidayat memutarkan film animasi keluarga, seri 1.a dan 1.b yang berdurasi 3 menit. Setelh film selesai diputar, Nur Hidayat mengajukan pertanyaan pada ibu-ibu, “Bagaimana bu, tindakan ibu Lili dalam film itu?” ucap Nur Hidayat pada peserta pagi itu. “Ibu Lili cepat marah bu mungkin karena dia tak punya uang,” ujar Bu Sujari. “Biasanya kalau saya tidak punya uang, saya juga sering marah je.” Ujar Sutinah menimpali sambil bercanda. “Kalau itu sih sama demgan ibu Lili, orangnya cerewet,” jawab Nur Hidayat sambil melucu juga.

 

Pertemuan kelompok yang kini mereka lakukan, merupakan sebuah proses pelatihan untuk menguasai buku panduan, yang mereka dapatkan dalam diklat tersebut. Sesuai dengan ilmu yang di dapat dari TOT, Achmad Buchori, Joko Sumarno, Dinah Pangestuti dan lainnya, diwajibkan memberikan bekal kepada pendamping PKH, seperti materi yang pernah mereka dapatkan di bangku TOT. “Kita jangan sampai lepas dari buku panduan dan buku pintar ini, sebab dalam modul ini sudah demikian jelas dan lengkap, tinggal kalian memberi tambahan di masing-masing topiknya, “ ujar Uji Hartono, di depan kelas B.

 

Dijelaskan oleh Uji Hartono tiap-tiap langkah mempunyai permasalahan tersendiri dan juga mempunyai cara penyelesaiannya pula. Tiap langkah yang didukung oleh flipcart dan film animasi, sangat memudahkan peserta untuk mendalaminya. “Agar mudah menerangkan kepada peserta PKH nanti, maka kita harus menyimak betul isi film animasi tersebut, dan cocokkan dengan buku panduan yang ada sehingga semua tidak keluar dari jalur.” tambahnya.

 

Di kelas B yang juga dibagi dalam 3 kelompok, untuk kelompok1 yang menempati ruang diskusi, Dikelompok ini juga saat Krsitina Linawati memandu langlkah 6 sesi 1, ia memberi penjelasan tentang membuat keputusan bersama dan melaksanakan dengan konsisten. Kristina mengatakan,”Pernahkah ibu-ibu mendiskusikan dengan suami untuk memutuskan bersama tentang berbagai macam hal terkait pengasuhan anak?” Jawab peserta dikelompok itu “ Jarang bu, suami saya cuek,” ucap Ahmad yang berpura pura sebagai ibu Suriati. “Yang lain bagaimana,” tanya Krisina menyela. “Saya sering bu, mau makanpun diskusi, bagaimana menambah anak,” sahut Syukron yang berperan sebagai ibu Marni sambil tertawa.

 

Dalam bermain peran di kelas A dan B, pada masing-masing kelompoknya, memang diharapkan serius dan berusaha untuk mendekati kenyataan seperti pertemuan PKH biasanya. Untuk itu pada masing-masing kelompok kecil, yang sedang dilaksanakan pada kelas A dan B itu, semua peserta diklat bermain peran layaknya ibu yang sedng hamil ataupun yang punya masalah keluarga.

 

Masih dilangkah 6, Kristina kemudian memutarkan film 1 c, tentang pemintaan Ita minta es tong-tong. “Ibu-ibu disksikan ya, dengan teman diampingnya, bagaimana peran Pak Rusli dan Bu Lili di film itu,” pinta Kristina. Terlihat peserta dalam kelompok itu masing-masing sedang mendiskusikan isi cerita dalam film 1 c, sambil memegang buku panduan dan buku pintar mengasuh anak, tampak semua serius melakukan perintah Kristin. “Sudah bu, coba bu Sri bagaimana pendapatnya,” pinta Kristina. “Kalau saya, bila anak saya belum makan ya iak boleh minum es dulu, apalagi nanti bikin pilek, saya larang bu,” jawab Sri. “Bagus kalau begitu, yang penting semua dimusyawarahkan dengan suami ya bu, biar tidak saling menyalahkan bila anak sakit pilek,” tambah Kristina. “Ya bu,” teriak semua peserta sambil bergurau.

 

Setelah langkah 6 selesai, pada hari itu dilanjutkan sampai langkah 8 yaitu penutupn untuk sesi 1. Dan sebagai peserta yang ditunjuk untuk menutup lanhkah 8 ini Hasbolah dengan menerankan memakai flipchart FC 1a dan 1 b. Tentang cara menjadi orang tua lebih baik. Pada sesi 2 ini diklat kelas A dan B membahas topik tentang Memahami Perilaku Anak. Dalam kelas B ini Dinah Pangestuti menjelaskan terlebih dahulu langkah demi langkah dan praktek kelas kecil. Pada sesi 2 terdapat dua besaran topik, yaitu meningkatkan perilaku baik anak dan mengurangi perilaku buruk anak. Untuk topik pertama terdapat 3 langkah, yaitu pembukaan, memuji anak, dan membrikan penghargaan saat anak melakukan hal baik, yang berisi diskusi dan pemuaran film 2a. Sedangkan topik mengurangi perilaku buruk anak, ada 3 langkah yaitu 4,5 dan 6.

 

“Jangan lupa hari ini ita membicarakan mengenai perilaku anak, bagaimana meningkatkan perilaku baik anak dan menghadapi perilaku buruk anak,” ujar Dinah di depan kelas. Dinah juga memberikan penekanan kepada peserta diklat agar mengingatkan ibu-ibu yang kemarin bertemu untuk mempraktekkan pengasuhan anak yang baik.

 

Dinah Pangestuti yang mengawali proses diklat untuk kelas B, menjelaskan tentang langkah-langkah 1 sampai dengan 6. Seperti langkah pertama yaitu pembukaan,ia ampaikan bahwa topik diskusi hari ini mngenai perilaku anak, bagaimana meningkatkan perilaku anak dan menghadapi perilaku buruk Dikatakan bahwa dalam langah 2 ini poses yang dilakukan, adalah mendiskusikan cara memberikan perhtian bagi perilaku baik anak. Kemudian dianjurkan dalam langkah ini peserta untuk berpasangan, dan mengajak peserta untuk memikirkan sifatburuk yang peling mennjol dari anaknya, misalnya ramah, bertanggung jawab, senang membantu.

 

Setelah diskusi selesai Dinah menganjurkan kembali kepada pesera agar nanti sewaktu diskusi dengan peserta PKH, dimintakan pendapat yaitu berepa sifat baik anak yangmereka ingat, minta peserta untuk menyebutkan sifat baik anak mereka di depan peserta lain. “Dan apakah pesert pernah memuji anak karena sifat baiknya,” tegas Dinah sambil menunjuk pada power point pada LCD depan kelas. Untuk selnjutnya Dinah melanjutkan penjelasan langkah 3 sampai 6 yang masih membahas sifat baik dan buruk anak.

 

Menginjak siang, setelah mendengarkan penjelasan dari awal dan akhir sesi 2, maka sesuai dengan jadwal, peserta dibagi dalam kelas kecil berjumlah 3 kelompok. “Nanti praktekkan dimasing-masing kelompok peran kalian masing-masing sesuai buku panduan itu, “ ucap Dinah Pangestuti.

 

Di kelompok kecil yang menggunakan ruang diskusi, Dinah Pangestuti masih memandu melalkukan praktek kelas kelompok 1. Dengan jumlah peserta sebanyak 9 orang, masing-masing peserta diklat mulai membagi peran dan mempelajari tokoh yang akan dimainkan. Bila mereka bertindak sebagai ibu rumah tangga yang punya anak nakal, maka ia harus mengungkapkan kenytaan perilaku anak dan kemudian mendiskusikannya. “Baik ibu-ibu kita mulai sesi ke dua ini dengan berpasangan dan masing-masing mengungkapkan apa yang bik dan buruk pada anak kita masing-masing,” ujar Mahsun asal Ngawi memulai pembicaraan siang itu. “ Kalau anak saya pendiam bagaimana bu,” ujar Kumpi pendamping PKH Kecamatan Ngawi, yang berpura-pura sebagai Bu Endro. “Ya diingat saja apa yang pernah ibu lihat pada anak ibu perilakunya, masak anaknya kok tidak hafal sifatnya, pasti thu to bu,” jawab Mahsun sambil mendekat pada bu Endro yang terkesan tersipu-sipu.

 

Dalam kelompok kelas kecil ini pula di tempel flipcart FC 2 a,b,c,d dan e, juga pemutaran film animasi seri 2,a,b,c dan d.“Baik bu kita lihat film FC 2,b, ya, “ ujar Kumpi. Selanjutnya film animasi yang bercerita tentang ketegasan dan kelembutan Ibu Lili terhadap anaknya, tidaklah lama, hanya bedurasi 4 menit. Setelah film selesai Kumpi mengulas sebentar tantang isi film tersebut, dan berdiskusi masalah isi film tadi. Di akhir tugas Kumpi sebagai pemeran pendamping PKH di depan kelas ia berujar, “ Terima kasih ibu-ibu telah menyampaikan pendapatnya, dan kita tadi telah mempelajari Bu Lili dan Pak Rusli berusaha tenangndan tidk menggunakan kekerasan, namun tetap tegas dalam mengatasi perilaku Agus.” Selanjutnya Kumpi mempersilahkan teman lain dikelompoknya untuk meneruskan langkah ke enam.

 

Qomaria Samsiatun yang mendapat bagian akhir dari praktek sesi 2 dan melakukan peran pada langkah 6 yaitu penutupan. Ia membeikan beberapa kesimpulan dan mengulan sepintas gambar pada flipcart FC,2,a,b,c,d dan e. serta brosur dan poster Pintar Mengasuh Anak.

 

Kata Qomaria, orang tua perlu mengetahui dampak dari menggunakan kekerasan, terutama dampak kekerasan fisik kepada anak. Diantaranya, meurut Qomaria adalah anak akan menganggap vagwa memukul, mencu it, menyakiti orang lain adalah hal yang boleh dilakukan ketika marah. Memukul dapat menyakiti tubuh anak, orang tua terkadang tidk mnyadari kekuatan yang digunakan saat memukul seseorang yang tubuhnya jelas lebih kecil dari orang dewasa. Bahkan, masih menurut Qomaria, kekerasan tidak mengajarkan kepada anak bagaimana cra merubah perilaku buruk mereka, tetapi membuat anak mrasa takut kepada orng tua, merasa dipermalukan dn bingun. “Bahkan terkadang anak mencari cara agar tidk kjetahuan orang tua bahwa ia masih melakukan kebiasan buruknya tersebut,” ujarnya di depan kelompoknya.

 

Masih di depan kelompok kecil, Qomaria berujar, “ Ibu-ibu nanti di pertemuan selanjutnya agar bisa menceritakan tentang praktek pengasuhan yang ibu-ibu lakukan dirumah, dan jangan lupa buku pintar harap dibawa kembali,” pintanya. “Iya bu,” jawab semua peserta sore itu.

 

Menginjak hari ke 4 masing-masing kelas mulai mempelajari sesi 3 dengan topik Memahami Cara Anak Usia Dini Belajar. Achmad Buchori yang mengampu di kelas A. memberikan keterangan langkah demi langkah, dan terdapat 6 langkah yang dibagi dalam 2 kelompok besar yatu bermain sebagai cara anak untuk belajar, dan meningkatkan kemampuan bahasa anak. “Ingat ya tiap sesi pasti ada langkahnya, jadi kita ikuti langkah-langkah tersebut.” ujar Achmad Buchori di depan kelas

 

Untuk langkah pertama, ucap Achmad Buchori proses yang dilakukan diantaranya, minta beberapa orang pserta untuk menyampaikan apa saja yang sudah dipelajari pada pertemuan sebelumnya Juga minta peserta untuk menceritakan tentang praktek pengasuhan yang telah dilkukan di rumah. “Tanyakan pada peserta PKH nanti apa yang telah dipraktekkan di rumah,” ucap Achmad Buchori.Sebagai fasilitator ia mengingatkan kepada peserta diklat agar dalam mampraktekkan materi FDS di lapangan nanti selalu gembira, sebab di sesi 3 topiknya adalah bermain.

 

Setelah menginjak langkah pembukaan, dilanjutkan pada langkah ke dua. Untuk langkah ini peseta diajak bermain oleh Achmd Buchori yaitu “merangkai kata”. Semua peserta melingkar dan berdiri, dianjurkan oleh Achma Buchori agar tiap peseta diminta menaruh telapak tangann kannya (dalam posisi terbuka) diatas telapak tangan kiri teman yag beriri disebelahnya. Peserta memulai permainan dengan cara menyebutkan satu kata sambil menepuk tangan kananya ke telapak tangan peserta di sebelah kirinya, sambil menyebut kata “jerukl” kemudian yang ditepuk melanjutkan yang berhubungan kata yang disebutkan tadi, seperti “manis”. Permainan cukup menyenangkan dan kejenuhan sudah mulai mencair kembali. Dilangkah ini manfaat yang dipetik adalah melatih konsentrasi dan menambah perbendaharaan kata baru, permainan terseut juga dapat dilakukan orang tua bersama anak di rumah. Langkah demi langkah sudah di disimulasikan pada kelas besar, maka kelas kembali menuju di kelas kecil yang berjumlah3 kelompok.

 

Pada kelas kecil, kelompok pertama, mulai melaksanakan praktek sesi 3 di ruang diskusi lantai 1. Ivan Nurcahyo yang berperan sebagai pendamping di langkah 3 ` yaitu memanfaakant kegiatan sehari-hari di rumah sebagai kesempatan bermain bersama anak. Di sini, Ivan Nurcahyo mengawali pembicaraan dengan mengajak peserta melihat tayangan film 3.a. Setelah melihat film tersebut ia menyarankan agar disampaikan kepada KSM untk bermain sambil memasak.. “Sampaikan Bu Lili memanfaatkan waktu saat ia mencuci pakaian untuk bermain bersama Ita. Pak Rusli juga mengajak Ita dan Agus untuk bermin tebak-tebakan saat ia menemani mereka menyikat gigi sebelum tidur,” pinta Ratnawati yang kemudian mengakhiri gilirannya.

 

Dalam posisi melingkar peserta diklat mempraktekkan langkah demi langkah secara bergantian. Tiba giliran Sobirin, ia meminta peserta untuk membaca secara bergiliran, berbagai cara bermain bersama anak sesuai usianya dalam Buku Pintar Mengasuh Anak halaman 14,15 dan 16. Tri Apriliyanto yang berperan sebagai Bu Ruminten mendapat tugas bacaan pada halaman 4-6 bulan, dikatakan “Anak bermain sebaiknya sesuatu yang dapat bergerak dan menarik perhatian anak. Kegiatan yang dapat dilakukan, diantaranya : ketika menggendong anak, tunjuk dan sebutkan nama-nama benda sekitar. Letakkan anak pada posisi tengkrap lalu berikan mainan yang dapat menimbulkan suara di dekatnya agar ia bergerak untuk mengambil mainan tersebut. Dan bermain tepuk tangan atau ciluba dan tersenyum.” Setelah membacakan buku pintar di halaman 14,15 dan 16. Tri Aprilianto mengajak kembali peserta untuk bernyanyi sesuai usia anak yang berjudul “topi saya bundar”. Dengan berdiri melingkar dan menggerakkan tangan, nyanyian topi saya bundar cukup membut suasana siang itu tidak ngantuk

 

Suasana segar dalam kelas memang selalu terus dijaga agar penyerapan materi dapat diterima dengan baik. Dikatakan Tri kepada peserta, bila nanti bertemu dengan KSM agar disampaikan bahwa salah satu kemampuan dasar yang harus dimiliki anak agar suksesbersekolah ataupun sukses dalam kehidupannya kelas dalah kemampuan berbahasa. “Salah satu cara meningkatkan kemampan bahsa anak adalah dengan sering berbicara kepada anak dan memberikan kesempatan pada anak untuk berbicara.” Tambahnya lagi.Untuk itu pada langkah 5 posisi Tri Aprilianto diganti oleh Eko Wahyudi. Dilangkah ini Eko membagi peserta diklat menjadi 3 kelompok, yang mana setiap kelompok akan mempraktekkan cara untuk mengembangkan kemampuan bahasa anak dengan tugas tertentu. “Untuk kelompok 2, tugsnya beriskusi untuk memilih 2 lagu/pantun yang akan dinyanyikan bersma anak. Semua anggota kelompok ini harus dapat menyanyikan dua lagu/pantun yang disertai dengan gerakan tubuh,” pinta Eko Wahyudi.

 

Setelah sesi 3 selesai kemudian dilanjutkan sesi 4 yang membahas pentingnya pendidikan anak usia dini dan membantu anak sukses di sekolah. Pada sesi 4 atau yang terakhir in terdapat 7 langkah dan, peserta dibagi dalam 3 kelompok. Di kelompok 1 Nilamsari memulai dengan membuat permainan, yaitu berupa pesan berantai. Sebanyak 5 orang disuruh berbaris memanjang kebelakang, peserta paling depan dibisikkan sebuah kalimat oleh pendamping, setelah itu peserta pertama menyampaikan pesan kepada peserta kedua dan seterusnya. “Nanti peserta paling belakang harus menyampaikan isi pesan yang diterimanaya kepada pendamping,” ujar Nilamsari memberikan instruks

 

Langkah kedua baru saja selesai, Nilamsari masih saja mengulas masalah pendidikan usia dini di depan kelas. Ia meminta peserta untuk menyebutkan lembaga pendidikan anak usia dini yang ada dosekitar tempat tinggalnya. “ Coba saya minta peserta untuk berdiskusi kelompok masalah jarak tempuh, biaya transportasi, biaya pendidikan dan bagaiman cara mengatasi kendala tersebut.” pintanyaDilangkah lain Yuyun Setiana berbicara masalah membantu anak sukses di sekolah, ia meminta pesert dibagi dalam 3 kelompok membahas masalah apa saja yang biasanya menjadi pnyebb anak tidak mau bersekolh, dan bagaimana mengatasi permsalahan tersebut. “Setelah itu tiap kelompok nanti menyampikn p[endapatnya ya bua,” ujar Yuyun. Diskusi sudah usai kemudian ia mengajak peserta untuk menonton film 4.c. “Kita lihat film dulu ya bu,” ucap Yuyun.

 

Film animasi yang tidak sampai 4 menit itu, diminta Yuyun untuk dimengerti. Ia mengatakan Bu Lili dan Pak Rusli dalam film itu sepakat bahwa Agus tetap harus sekolah meskipun belum memiliki tas baru. Dan Agus diminta menambung uang jajan agar bisa membeli tas baru. Bu Lili menyediakan bekal agar Agus bisa menabung yang jajannya. Dilangkah terakhir Eko Wahyudi menggantikan peran Yuyun di depan kelas. Ia pada pertemuan itu bertugas sebagai penutup pertemuan.” Hari ini merupakan sesi terakhir mengenai pengasuhan dan pendidikan anak. “Kita telah mempelajari dari sesi 1- 4 untuk menjadi orang tua lebih kompak penuh kasih sayang, tidak melakukan kekerasan dan mengetahui cara yang lebih tepat mengurangi perilaku buruk anak, dan memberikan anak untuk bermain dan belajar untuk menempuh pendidikan demi sukses dimasa depan.” Tutur Eko Wahyudi menutup acara

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *