Pembelajaran Partisipatif Harus dan Perlu: MEMANCING MULUT ANGKAT BICARA

Papan tulis di depan kelas itu penuh tempelan kertas warna-warni yang telah ditulisi spidol hitam. Maklum saat itu tiap peserta diwajibkan mencurahkan idenya, untuk menentukan seorang pemimpin yang ideal. Tapi kadang model pembelajaran tersebut baru sebagian kecil dilakukan. Bisakah setiap diklat melakukan pembelajaran partisipatif ?

 

Gambaran seorang pengajar berdiri di depan kelas, kemudian membolak-balik tranparansi di atas OHP bukanlah hal asing. Seakan–akan OHP tersebut merupakan senjata utama bagi pengajar sewaktu menuangkan seluruh idenya kepada peserta diklat. Karena OHP merupakan alat bantu ajar yang sangat mudah dipakai, jarang pengajar yang meninggalkan alat tersebut bila sedang beraksi. Sebetulnya pemakaian OHP tidaklah salah, walau kini sarana elektronika sudah demikian dekat dan mudah digunakan, seperti komputer, lcd. Penuangan ide dan gagasan memakai sarana komputer jelas lebih menarik dan indah dilihat, apalagi engan gambar yang bergerak-gerak. Metode pembelajaran bagi orang dewasa memang masih konvensional di Indonesia. Lihat saja peran fasilitator atau pendidik yang berdiri di depan kelas, kebanyakan masih menuangkan idenya 70 prosen teori, sedang 30 % tanya jawab atau praktek, persis seperti apa yang tertuang dalam rapat kerja refleksi BBPPKS Yogyakarta tahun 2015. Padahal disadari atau tidak metode seperti itu sangat melemahkan mutu kediklatan yang sedang dilakukannya. Jarang sekali diklat diwarnai oleh kegiatan belajar mengajar yang menyenangkan, kreatif, inovatif, fleksibel serta efektif.

 

Bagi Dwi Kuswantoro,SE Sekretaris Eksekutif Pinduk DIY mengungkapkan, pelatihan yang dilakukan pinbuk selama ini tetap di dalam kelas, tapi partisipatif. “Kami juga bermain game, dan having fun dengan penyadaran-penyadaran yang banyak sekali,” tambahnya saat ditemui Suradji dari Empati di kantornya. Ia yang lulus Fakultas Ekonomi Universitas PGRI tahun 2003 itu, menambahkan bahwa peserta diklat di Pinbuk adalah orang yang nanti akan mendampingi BMT di desanya masing-masing. Maka perbandingan antara teori dan praktek tidak sama, mengingat diklatnya adalah peningkatan ketrampilan usaha. “Mereka kita latih bagaimana mendapingi masyarakat dengan betul, sehingga metode yang dipakai tentu partisipatif,” ujarnya. Oleh karena itu setiap peserta diklat dihjarapkan mempunyai jia andap asor, tidak boleh menang lungguh dan menganggap kita yang paling pintar. “Kita sama-sama sejajar,” tegasnya.

 

Dikatakan bahwa Pinbuk dalam memberdayakan sumber daya manusianya, arahnya dalah penguatan-penguatan kelompok dan masyarakat. Sehingga berbagai macam metode pembelajaran dilaksanakan, agar potensi yang ada di masyarakat dapat dipecahkan oleh masyarkat sendiri. “Kami bukan guru atau sinterklas, Pinbuk adalah anggota masyarakat yang bersama-sama memikul stimulan dengan mereka,” tambahnya.Tentu pembelajaran partisipatif dengan konsep andragoginya, sangat cocok bagi orang dewasa. Karena dalam konsep tersebut terdapat empat asumsi pokok. Pertama, konsep diri. Asumsinya bahwa kesungguhan dan kematangan diri seseorang bergerak dari ketergantungan total menuju ke arah pengembangan diri, sehingga mampu untuk mengarahkan dirinya sendiri dan mandiri. Dapat dikatakan secara umum konsep diri anak-anak masih tergantung sedangkan pada orang dewasa konsep dirinya sudah mandiri. Kedua, peranan pengalaman.

 

Asumsinya bahwa sesuai dengan perjalanan waktu seorang individu tumbuh dan berkembang menuju ke arah kematangan. Dalam perjalananya, seorang individu mengal mi dan mengumpulkan berbagai pengalaman yang dijalianinya dalam hidup, diman hal ini menjadikan seorang individu sebagai sumber belajar yang demikian kaya, dan pada saat yang bersamaan individu tersebut memberikan dasar yang luas untuk belajar dan memperoleh pengalaman baru. Ketiga, kesiapan belajar. Asumsinya setiap individu semakin menjadi matang. Maka kesiapan belajar bukan ditentukan oleh paksaan akademik dan biologisnya, tetapi lebih banyak ditentukan oleh tuntutan perkembangan dan perrubahan tugas dan peran sosialnya.

 

Pada seorang anak, belajar lebih karena adsanya tuntutan akademik atau biologis. Sedangkan pada orang dewasa kasiapan belajr lebih karena tingkatan perkembanganm mereka yang harus menghadapi dalam peranannya sebagai pekerja, orang tua atau pemimpin organisasi. Keempat, orientasi belajar. asumsinya pada anak orientasi belajarnya sudah ditentukan dan dikondisikan untuk memiliki orientasi yang berpusat pada materi pembelajaran. Sedangkan pada orang dewasa menpunmyai kecenderungan memiliki orientasi belajar yang berpusat pada pemecahan permasalahan yang dihadapi. Hal ini dikarenakan belajar bagi orang dewasa merupakan kebutuhan untuk menghadapi permasalahan yang dihadapi dalam kehidupan keseharian, terutama dalam kaitannya dengan fungsi dan peran sosial.

 

Konsep belajar bagi orang dewasa yang dibangun di atas empat asumsi tersebut, pada gilirannya dapat digunakan sebagai dasar pijak bagi pengembangan pembelajaran partisipatif. Sebagai salah satu konsep pembelajaran, pembelajaran partisipatif tentu tidak cukup hanya dibangun di atas empat asumsi tersebut.tetapi dasar-dasar ontologi dan epistemologi juga perlu dielaborasi.Bagi lembaga training Abhiseka yang mengkhususkan pada pelatihan pengembangan sumber daya manusia, model pembelajaran partisipatif sangat menonjol, bahkan hampir disetiap sesion, model tersebut cukup mendominasi. “Problem training di Indonesia itu masih seperti sekolah, peserta meminta bahannya mana, padahal bahan bisa didapat seabrek,” kata Muslich Zainal Asikin kepada Anwar Rosyid siang itu di rumahnya.

 

Dikatakan bahwa sebetulnya orang mengikuti training itu untuk merubah sikap dan perilaku. Jadi beda dengan sekolah, sebab kalau training sesunmgguhnya yang terjadai adalah dialog tanpa ada bahan. “Training di Jepang itu tak dikasih apa-apa, disana hanya dialog saja, sepulang dari training hanya dikasih sertifikat,” kenangnya. Dibanding di Indonesia kebanyakan peserta diklat sering meminta makalah sampai tebal-tebal. Muslich menganggap bahwa di Indonesia kalau mengikuti diklat tidak mendapatkan makalah atau tidak dikasih apa-apa, diklat itu dinilai tidak bermutu. “ Nah itu sebetulnya masalah kita, padahal mengikuti diklat adalah terjadinya perubahan sikap dan perilaku,” katanya.

 

Maka Muslich yang sudah malang melintang mengikuti diklat diberbagai negara, mengungkapkan orang datang di pelatihan itu kan espektasi. Bila saya datang ke restoran untuk makan, dan setiap datang kok rasanya begitu terus, maka tamu tak akan datang lagi. Oleh karena itu, model pembelajaran partisipatif dengan pengajar yang m,empunyai kompetnsi tinggi, akan membuat peserta datang terus. “Dan model ini sampai sekarang jalan terus, contohnya untuk suatu materi pengejar UGM seperti Prof DR Jamaludin Ancok kita datangkan,” tegasnya.

 

Fajar Sudarwo Kepala Devisi Pendidikan dari USC SATUNAMA menambahkan pembelajaran partisipatif itu memang mudah dikatakan, tapi sebetulnya sulit dilakukan. Dan paling banyak pembelajaran partisipatif itu kini hanya artikulatif saja, karena hanya mengambil bagian dalam proses. Padahal dalam proses itu tidak cukup, disamping semangat dan hasil konkritnya. “Maka saya setuju pembelajaran partisipatif itu baik walau penggunaannya paling susah dalam metode pembelajaran,” katanya kepada Ani Mardiyati. Untuk mendukung proses tersebut lembaga yang mengemban visi sebagai organisasi non profit, non primordial dan non politis, dengan komitmen perjuangan untuk menghapus kemiskinan dan mewujudkan masyarakat Indonesia yang mandiri, demokratis, berkeadilan sosial dan menjunjung tinggi hak asasi manusia, menggunakan media belajar apa saja demi kelangsungan pembelajaran partisipatif.

 

Ia mencotohkan, media belajarnya bukan hanya kelas, kursi, atau kertas. namun USC SATUNAMA biasa menggunakan media film, ketoprak, lesehan pinggir jalan, lumpur di sawah. “Kita berusaha mendekatkan peserta dengan media pembelajaran, sehingga langsung dengan kepentingan peserta, kalau tidak maka diklat itu gombal,” sindirnya siang itu. Dalam pembelajaran itu USC SATUNAMA memang banyak fareasinya, yaitu bila pembelajarannya bersifat politis, maka setingnya ya politis, kalau teknis ya kita buat seting teknis. “ Seperrti diklat pendidikan politik dan kepemimpinan maka setingnya suasana tentang kebijakan, peraturan,” tambahnya.

 

Sebagai akibat dari perubahan yang sangat pesat di millenium ketiga ini, terdapat tiga faktor utama yang mendorong masyarakat terus berubah, yaitu perkembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi, kependudukan dan ekologi atau lingkungan hidup. Akibat perubahan yang sangat pesat yang disebabkan tiga faktor tersebut, maka ada anggapan lulusan universitas terlalu sempit dalam spesialisasinya, atau sebaliknya atau terlalu luas pengetahuannya tanpa fokus, sehingga dua-duanya tidak siap masuk ke dalam bidang-bidang baru yang menentukan kemampuan untuk bersaing. Karena perubahan yang sangat mendalam dan pesat, maka mengharuskan manusia belajar hidup dengan perubahan terus menerus dengan ketidakpastian dan dengan ketidakmampuan memperhitungkan apa yang akan terjadi.

 

Diklat sebagai salah satu sarana pen ingkatan kemampuan pengembangan diri sendiri maupun kelompok, mempunyai peranan penting, sejauh model pembelajaran mampu menjembatani realitas yang ada. Namun bila diklat yang selama ini hanya sebagai sebuah arena penuangan gagasan yang bersifat linier, maka perubahan tak akan terjadi. Akankah pembelajaran partisipatif mampu merubah sikap dan perilaku manusia ke arah yang lebih baik ? (anwar Rosyid)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *