MENJADI FASILITATOR MENYENANGKAN

Abstrak

Dalam proses pembelajaran, seorang fasilitator diharapakan dalam menyusun sekenario dalam mencapai tujuan pembelajaran perlu memperhatikan suasana hati peserta diklat, yaitu suasana yang menyenangkan. Belajar terasa menyenangkan apabila kegiatan belajar dilakukan dengan sukarela,atas kesadaran dan kemauan sendiri, dan tanpa ada paksaan serta tekanan dari manapun juga datangnya.
Fasilitator mempunyai peran yang sangat vital dalam upaya untuk menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan karena fasilitator adalah sebagai seorang perancang bangun pembelajaran sekaligus pelaksana yang terlibat langsung dalam proses pembelajaran.
Dengan pendekatan pembelajaran yang menyenangkan diharapkan tujuan pembelajaran akan tercapai dengan baik dan peserta diklat dalam mengikuti pembelajaran lebih nyaman dan penuh makna.

Kata Kunci : Fasilitator Menyenangkan

I. PENDAHULUAN.

A. Latar Belakang Masalah

Dalam proses pembelajaran, khususnya pembelajaran orang dewasa masih dijumpai adanya adanya fasilitator yang mengejar target supaya semua materi ajar yang direncanakan dapat disampaikan kepada peserta diklat dengan sangat cepat. Sementara disisi lain, suasana hati dari peserta diklat kurang mendapat perhatian dari fasilitator. Sehingga yang terjadi interaksi pembelajaran lebih banyak terjadi hanya satu arah, yaitu dari fasilitator kepada peserta diklat (One way traffic). Apabila hal ini terus berjalan dalam sesi pembelajaran maka yang terjadi adalah pembelajaran yang monoton dan kaku. Pada proses pembelajaran ini tujuan pembelajaran dapat saja tercapai, tetapi dirasakan kurang manusiawi, karena fasilitator hanya mementingkan dirinya sendiri tanpa memperhatikan apa yang terjadi dan dirasakan oleh peserta diklat. Meminjam istilah Paulo Freire, disini ada proses “ penindasan “.

Dalam proses pembelajaran, seorang fasilitator diharapakan dalam menyusun sekenario untuk mencapai tujuan pembelajaran, perlu memperhatikan suasana hati peserta diklat, yaitu suasana pembelajaran yang menyenangkan. Dengan demikian pembelajaran yang dirancang akan berjalan partisipatif, aktif, inovatif, komunikatif, kreatif dan menyenangkan.

B. Permasalahan.

Bagaimanakah memfasilitasi pembelajaran orang dewasa agar dalam proses belajarnya menyenangkan ?

II. PEMBAHASAN

Belajar merupakan aktivitas untuk mencapai sesuatu melalui interaksi dengan orang lain. Belajar bagi orang dewasa berarti mengembangkan kemampuannya, memperkaya pengetahuan, meningkatkan kualifikasi teknis atau profesionalnya, sehingga mengakibatkan perubahan pengetahuan, sikap, perilaku dan ketrampilannya sebagai pribadi yang utuh. Belajar terasa menyenangkan apabila kegiatan belajar dilakukan dengan sukarela,atas kesadaran dan kemauan sendiri, dan tidak ada paksaan serta tekanan, maka kegiatan belajar akan terasa menyenangkan. Karena itulah, setiap orang yang belajar diharapkan melakukan dengan panggilan hati, bahwa belajar itu akan membawa manfaat bagi diriya sendiri. Dengan demikian maka kegiatan belajar benar-benar akan menyenangkan dan penuh makna.

Karakterristik pembelajaran menyenangkan menurut Hadi susanto (2013), bahwa pembelajaran diharapkan dapat menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan, dengan didukung lingkungan aman, bahan ajar relevan, menjamin bahwa belajar secara emosional adalah positif, yang pada umunya hal itu terjadi ketika dilakukan bersama dengan orang lain sebagai dorongan dan selingan humor serta istirahat dan jeda secara teratur. Selain itu, pembelajaran akan menyenangkan manakala secara sadar pikiran otak kiri dan kanan sadar, menantang peserta didik berekspresi dan berfikir jauh ke depan, serta mengonsolidasikan bahan yang sudah dipelajari dengan meninjau ulang dalam periode-periode yang relaks.

Agar proses pembelajaran dapat berjalan dengan efektif maka fasilitator mempunyai peran yang sangat penting untuk merencanakan tercapainya tujuan pembelajaran, yaitu dengan menggunakan metode yang variatif sesuai dengan situasi dan kondisi di dalam tempat belajar. Agar proses pembelajaran berjalan tidak kaku dan monoton maka fasilitator dituntut untuk dapat menciptakan suasana pembelajaran yang kreatif dan menyenangkan.

Berikut ini adalah langkah-langkah untuk menjadi fasilitator yang menyenangkan dalam proses pembelajaran, yaitu : Pertama, menciptakan iklim yang nyaman bagi peserta diklat. Iklim belajar yang nyaman, sejuk, tidak berisik, dan penuh keceriaan merupakan prasyarat terlaksananya pembelajaran yang menyenangkan. Untuk mewujudkan hal tersebut fasilitator memegang peran yang penting karena fasilitatorlah yang menyusun rencana pembelajaran. Kedua, mendengarkan dengan serius setiap pertanyaan, komentar, tanggapan peserta diklat.

Peserta diklat ibarat pelanggan dalam dunia bisnis, oleh karena itu fasilitator diharapkan dengan penuh perhatian, wajah yang ceria yang disertai senyuman memperhatikan apapun pertanyaan, tanggapan, saran dan komentar dari peserta, maka peserta akan merasa diperhatikan oleh fasilitator. Ketiga, memberikan pujian. Seorang fasilitator diharapkan selalu memberikan pujian terhadap pertanyaan peserta diklat, ide-ide baru dan sejenisnya, misalnya, itu pertanyaan yang bagus, itu ide yang luar biasa, sarannya sangat luar biasa.

Dengan diberikan pujian maka peserta diklat merasa diperhatikan Hal ini akan membuat peserta diklat akan semakin semangat dan antusias dalam mengikuti setiap pokok bahasan dalam pembelajaran. Keempat, menciptakan lingkungan kelas yang menarik. Penataan ruang kelas sangat menentukan jalannya interaksi dalam proses pembelajaran. Usahakan fasilitator dapat menatap langsung peserta diklat. Oleh karena itu posisi tempat duduk bisa disusun melingkar atau berbentuk U. Hindari penataan tempat duduk berjajar kebelakang.Meja kursi untuk belajar sebaiknya dirancang yang mudah dipindah-pindahkan (mobile). Hindari dalam merancang tempat duduk yang berat dan terlalu besar sehingga sulit untuk memindahkannya.

Lingkungan juga menjadi tempat untuk memajang hasil-hasil pembelajaran. Oleh karena itu perlu dirancang penempatan hasil pembelajarannya. Kelima, menggunakan bahasa cinta. Seorang fasilitator dalam memfasilitasi pembelajaran agar berjalan menyenangkan, perlu mengembangkan perasaan cinta lembut.

Menurut Steve Biddulph dan Sharon Biddulph (2006), cinta lembut adalah kemampuan untuk bersikap relaks, hangat dan penuh perhatian. Sebagai fasilitator dalam memandu peserta diklat membahas topik pembelajaran, hendaknya bersikap relaks, yaitu mengembangkan suasana kekerabatan tanpa jarak menegangkan. Hangat yaitu setiap menyapa peserta diklat penuh dengan senyum dan dengan mimik wajah yang cerah, ceria, familier dan mengembangkan ketulusan. Penuh perhatian, yaitu memperhatikan semua peserta diklat tanpa terkecuali. Keenam menggunakan humor dan permainan (game) sebagai selingan. Proses pembelajaran tanpa selingan humor ibarat sayur tanpa garam. Oleh karena itu fasilitator perlu memberikan selingan dengan humor yang menarik tetapi tidak jorok dan tidak mengarah pada pornografi. Bila fasilitator kurang mampu membuat humor, hal ini bisa disiasati dengan mempelajari humor dari buku-buku maupun internet.

Sedangkan mengenai permainan, disamping dari perbendaharaan dari fasilitator dapat juga dengan memberdayakan peserta untuk mengisi selingan dengan permainan. Waktu untuk mengisi permainan supaya disesuaikan dengan situasi kelas dan tidak terlalu sering. Ketujuh, penampilan menarik. Pada saat tampil dikelas, fasilitator akan menjadi pusat perhatian peserta diklat. Disini fasilitator menjadi “ publik figur “ walaupun sebatas didalam kelas. Oleh karena penampilan seorang fasilitator perlu menjadi perhatian penting. Menurut Sunarto (2008), berdasarkan hasil survenya bahwa fasilitator yang kurang menarik meliputi : terlalu banyak ceramah, suara yang monoton, berpakaian yang kurang rapi, berpakaian yang terlalu resmi, sulit menerima masukan dari peserta, jarang tersenyum, kelihatan kurang cerdas, tidak percaya diri, kurang humor. Oleh karena itu untuk menjadi fasilitator yang menarik tentu dengan mengatasi hal-hal yang membuat fasilitator kurang menarik seperti tersebut diatas.

Menyenangkan merupakan pendekatan dalam proses pembelajaran. Apabila diterapkan akan dapat meningkatkan interaksi antara fasilitator dan peserta diklat. Dalam pembelajaran dengan menyenangkan seorang fasilitator diharapkan terus berperan aktif, proaktif dan kreatif untuk mencari dan merancang media pembelajaran yang mudah dan sederhana tetapi tetap sesuai dengan tema pembelajaran. Rancangan tersebut perlu terus dikawal selama pelaksanaannya. Selanjutnya perlu menjadi perhatian, bahwa dalam proses pembelajaran orang dewasa agar kompetensi dasar dan indikator keberhasilan dapat tercapai dengan baik, maka fasilitator perlu terus mengumandangkan dan menggelorakan virus menyenangkan, karena dengan pembelajaran menyenangkan, hasilnya akan lebih baik dan peserta diklat akan merasa lebih nyaman dan penuh makna, semoga !

III. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

A. Kesimpulan :

  1. Fasilitator memegang peranan yang strategis dalam menggunakan pendekatan pembelajaran menyenangkan karena fasilitator adalah sebagai perancang bangun, pelaksana dan evaluator dalam proses pembelajaran.
  2. Langkah untuk menjadi fasilitator menyenangkan antara lain meliputi : menciptakan iklim yang nyaman bagi pserta diklat, mendengarkan dengan serius setiap pertanyaan, komentar, dan tanggapan peserta diklat, memberikan pujian, menciptakan ruang kelas yang menarik, menggunakan bahasa cinta, menggunakan humor dan permainan sebagai selingan, penampilan menarik.

B. Rekomendasi :

  1. Kepada Fasilitator. Agar indikator keberhasilan dalam pembelajaran tercapai dengan baik, maka pembelajaran dengan menyenangkan perlu terus disuntikkan dan digelorakan oleh fasilitator.
  2. Kepada penyelenggara diklat. Untuk menerapkan pembelajaran dengan menyenangkan, fasilitator perlu didukung dengan sarana dan prasarana yang diperlukan.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Dwi Deswary, 2005, Manajemen Pembelajaran, LAN RI, Jakrta
  2. Hadi Susanto, 2013, Pembelajaran Aktif, kreatif, aktif dan menyenangkan _ wongkapetan’s Blog.htm diakses 30 juli 2015
  3. Sunarto, 2008, Tips menjadi Fasilitator Idola_Htm diakses 25 Juli 2015
  4. Steve Biddulph & Sharon Biddulph, 2006, Mendidik Anak dengan Cinta, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
    ___________________

* Uji Hartono, Widyaiswara BBPPKS Yogyakarta.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *