MENGUBAH POLA PIKIR DONATUR LKSA

Menyantuni anak yatim piatu dan duafa diyakini masyarakat Indonesia sebagai perbuatan baik dan berpahala. Begitulah keyakinan sebagian besar masyarakat Indonesia yang religius.

Dimensi spiritual ini kemudian mampu menggerakkan hati sehingga mereka dengan suka rela memberikan donasi dalam bentuk uang, makanan, pakaian, peralatan sekolah bahkan bea siswa. Bila kita menonton acara – acara selebritis di Televisi, tak sedikit para artis yang mengundang anak-anak yang tinggal di panti asuhan untuk merayakan ulang tahun, menghadiri pengajian sebelum perkawinan, atau merayakan syukuran karena mendapat suatu berkah. Pada bulan-bulan perayaan keagamaan seperti Ramadhan dan Natal menjadi media yang ampuh untuk berdonasi. Selain itu tak sedikit individu-individu yang terus menggelontorkan bantuannya sebagai wujud donasi yang bersifat pribadi. Dorongan keyakinan ini membawa berkah bagi anak-anak yatim piatu dan duafa yang tinggal di panti asuhan sehingga mereka mendapatkan pengasuhan dan kesempatan bersekolah ke sekolah menengah atas bahkan menjadi sarjana. Terkecuali panti asuhan yang dikelola pemerintah dengan dana APBN dan atau APBD maka jauh sebelum Republik ini ada, masyarakat sudah mendirikan panti-panti asuhan (swasta) yang didanai dengan dana masyarakat yang dikenal dengan donatur. Tak dipungkiri bahwa panti asuhan menjadi sarana pertolongan untuk anak-anak terlantar dan kurang beruntung.

 

Rencana pemerintah mentransformasikan panti asuhan anak menjadi Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak dengan menggunakan Peraturan Menteri No 30/HUK/2011 tentang Standar Nasional Pengasuhan Anak (SNPA) untuk Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak akan menjadi tantangan tersendiri bagi pengelola panti asuhan. Standar Nasional Pengasuhan untuk Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak merupakan instrumen penting dalam kebijakan pengaturan pengasuhan alternatif untuk anak.Standar Nasional Pengasuhan untuk Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak ini disusun untuk menanggapi rekomendasi Komite Hak-Hak Anak PBB. Komitetersebut dalam tanggapannya terhadap laporan pelaksanaan Konvensi Hak-Hak Anak (Convention on the Rights of the Child-CRC) Pemerintah Indonesia, tahun 2004 mengeluarkan empat rekomendasi terkait situasi pengasuhan anak di institusi (childcare institution). Rekomendasi tersebut adalah: (a) melaksanakan studi komprehensif untuk menelaah situasi anak-anak yang ditempatkan dalam institusi, termasuk kondisi hidup mereka dan layananlayananyang disediakan; (b) mengembangkan program-program dan aturan kebijakan untuk mencegahpenempatan anak-anak dalam institusi antara lain melalui penyediaan dukungan dan panduan kepada keluarga-keluarga paling rentan dan dengan menjalankan kampanye-kampanye penggalangan kesadaran; (c) mengambil semua tindakan yang perlu untuk mengijinkan anak-anak yang ditempatkan dalam institusi-institusi untuk kembali ke keluarga mereka kapan pun dimungkinkan dan mempertimbangkan penempatan anakanak dalam institusi sebagai upaya penempatan terakhir; dan (d) menetapkan standar-standar yang jelas bagi institusi yang sudah ada dan memastikan adanya tinjauan periodik terhadap penempatan anak, sesuai dengan pasal 25 dari Konvensi (CRC/C/15/Add.223 26 February 2004)Salah satu tantangan bagi panti asuhan adalah menghadapi donatur yang selama ini menjadi penyandang dana utama. Mereka terbiasa menyerahkan bantuan langsung ke panti dan berinteraksi dengan anak-anak secara langsung.Artinya mereka menyerahkan bantuan sembari melihat, mengenal, melakukan acara bersama tanpa jarak.Sementara mandat SNPA adalah mengurangi keberadaan anak-anak di panti asuhan yang hanya di sebabkan oleh alasan kemiskinan dan pendidikan, bukan karena problem pengasuhan atau perlindungan khusus. Bilamana SNPA diterapkan secara perlahan akan mengurangi jumlah anak yang berada di panti asuhan dan berganti pada pemberdayaan panti menjadi lembaga kesejahteraan sosial anak yang memiliki layanan anak-anak yang berada di luar dan dalam panti sesuai dengan kemampuan masing-masing panti. Logika berpikir ideal SNPA analog dengan semakin sedikit anak tinggal di panti semakin baik artinya anak semakin dekat dengan keluarga dan semakin banyak anak yang dilayani di luar panti menjadi titik keberhasilan pemberdayaan bagi orang tua dalam mengasuh anak yang difasilitasi oleh panti asuhan.Salah satu kekhawatiran pengelola pantia asuhan (swasta) dalam sebuah acara sosialisasi SNPA di Kota Surabaya pertengahan November lalu adalah larinya donatur dari panti asuhan karena ketidakberadaan anak di lingkungan panti asuhan. “Lho bocahe endi?”(-anaknya mana?). Bagi donatur kurang mantap bila menyerahkan bantuan tanpa melihat atau memegang kepala anaknya, keyakinan bahwa bantuan itu akan sampai kepada tangan yang berhak, tidak khawatir kalau disalahgunakan para pengelola panti (apalagi berbentuk barang). Dimensi lain untuk “melihat” anak bagi donatur ada pada dimensi spiritual lain dalam membantu anak-anak panti asuhan yaitu terkabulnya sebuah doa yang dilafalkan oleh anak yatim yang juga tercermin dalam buku-buku tamu yang menyatakan keinginan itu. Selanjutnya bagaimana dengan asset berupa gedung dan harta tak bergerak yang dimiliki panti? “arep dikapakke?”) (-mau diapakan?). Tidak mudah memang mengubah keyakinan donatur tentang anak-anak panti asuhan apalagi bila berkaitan dengan buah iman yang mengatakan bahwa doa anak yatim itu sangat mujarab. Tidak ada yang salah dengan keyakinan itu. Namun bisa kita coba transformasikan perlahan dengan keyakinan bahwa prinsip untuk yang terbaik bagi kepentingan anak semua akan bila bisa dilewati. Selain memberikan pemahaman tentang apa itu SNPA. Salah satu cara yang dapat ditempuh untuk mengubah pola pikir donatur adalah dengan konsep yang juga berasal dari ruh sosial mereka. Pengelola panti asuhan harus mengenali tipe-tipe donatur utamanya, apakah tipe dermawan yang rasional?, tipe selebritas?, tipe orang yang religius?. Seorang donatur dengan tipe rasional tanpa embel-embel yang lain tidak akan sulit untuk diberikan pemahaman bahwa uang atau bantuan mereka tersalurkan dengan baik dan transparan yang dapat dibuktikan dengan laporan keuangan dan kegiatan yang dilaksanakan di panti atau di luar panti. Tipe donatur rasional ini bisa kita berikan buku SNPA, lalu ajak diskusi tentang acuan-acuan apa yang perlu diubah di panti asuhan, dan menganalisa sesuai kebutuhan panti dengan workshop bersama untuk merumuskan praktik terbaik. Sebagai fasilitator, panti asuhan dapat meminta bantuan nara sumber ahli yang paham tentang praktik terbaik SNPA. Donatur tipe rasional termasuk yang mudah diubah pola pokirnya. Misi mereka hanya ingin bersikap dermawan sebagai anggota masyarakat yang bermartabat dengan memberikan bantuan materi untuk mengentaskan anak-anak terlantar menjadi pribadi yang mandiri di kelak kemudian hari. Jika tipe selebritas yang mengagungkan pemberitaan berkaitan dengan kegiatan sosial mereka yang akan mengangkat popularitas di tengah masyarakat yang diharapkan juga akan menaikkan pamornya sebagai sosialita. Tipe ini banyak ditemui di kalangan artis, penyanyi, pejabat bahkan politisi.Kegiataan apapun yang dilakukannya selalu ingin diberitakan baik di televisi maupun media sosial.Oleh karena itu bilamana dia menjadi satu donatur utama segera tangkap kegiatan sosialnya dan beritakan maka donasi bisa menjadi berlipat-lipat. Pengelola panti tinggal memobilisir sebanyak-banyaknya anak panti dan non panti untuk sebuah acara yang akan diliput oleh media. Momen penting ini adalah ajak mereka untuk datang membuka workshop SNPA misalnya atau sitir pendapat mereka tentang SNPA di media-media panti seperti majalah panti asuhan atau siaran di radio atau televisi atau ajak sebagai duta anak panti.Nah, jika tipe religius tidak semudah itu. Tidak bisa sekedar mendatangkan seorang nara sumber yang memiliki pengetahuan agama yang hebat untuk ceramah macam seoran rohaniwan/ustad atau kyai karena keyakinan seseorang itu terbentuk sejak lama buah dari berbagai unsur budaya yang dihayati mulai dari lingkungan keluarga dan komunitasnya. Belum lagi persoalan aliran keyakinan yang berbeda antara donatur dan nara sumber. Bisa jadi perkara lain. Oleh karena itu kenali dengan cermat donatur anda, apa keyakinan agamanya sama dengan mandat panti misalnya dari organisasi masyarakat tertentu atau tidak atau bahkan berbeda keyakinan. Identifikasikan jumlahnya dan karakter masing-masing donatur, kategorikan menjadi kelompok-kelompok berpengaruh atau tidak, mudah menerima perubahan atau bergaya ortodoks. Setelah itu petakan pihak-pihak yang dapat mempengaruhi pola pikir mereka.Bila seorang agamawan cari yang popular dan dipercaya masyarakat. Agendakan untuk mengadakan pertemuan forum donatur yang dikemas dengan acara pengajian misalnya. Tentu saja tidak kalah pentingnya sebelum acara itu berlangsung anda harus berdialog terlebih dahulu dengan nara sumber soal apa itu pengasuhan berbasis keluarga, apa manfaatnya dan dalam konteks agama seperti apa praktiknya, apakah bisa sejalan atau bertentangan dan adakah ayat-ayat atau fatwa yang bisa dijadikan sumber rujukannya. Cara lain yang bisa dicoba adalah dengan mengajak para donatur dengan mengadakan tur ke panti asuhan yang sudah menerapkan SNPA. Tur bersama donatur ini sebagai sarana untuk meyakinkan mereka bahwa visi panti asuhan tidak bergeser hanya berbeda misi dan pengelolaannya saja yang berubah. Denga melihat secara langsung proses transformasi panti asuhan menjadi LKSA akan banyak keluar gagasan yang bisa menghubungkan berbagai dimensi pengasuhan anak dengan praktik pengasuhan anak yang baik atau pemberdayaan usaha ekonomis produktif bagi orang tua yang tentu saja akan membuka hubungan yang lebih luas antara donatur dengan panti asuhan, tidak lagi sekedar kegiatan sumbang-menyumbang. Harapannya anak-anak akan kembali kepada keluarga yang mencintainya dan panti asuhan berubah menjadi LKSA yang multi layanan dan kredibel. Semoga!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *