PEMBELAJARAN YANG HEBAT

Abstrak

 

Pembelajaran yang hebat, merupakan suatu rangkaian interaktif edukatif antara peserta diklat dengan widyaiswara, dalam rangka mencapai tujuan atau kompetensi tertentu yang disertai dengan ciri-ciri ampuh, sangat tinggi mutunya, terampil, dan memberi pengaruh besar. Untuk mewujudkan pembelajaran yang hebat di dalam kelas, faktor pertama dan utama yang perlu diberdayakan adalah kemampuan dan kapasitas widyaiswara sebagai seorang pengelola pembelajaran. Dengan pembelajaran yang hebat dan dikomandoi oleh fasilitator yang hebat juga, maka tujuan pembelajaran akan tercapai secara efektif dan efisien. Dengan demikian peserta diklat yang kembali ke tempat tugas masing-masing dengan kepala tegak dan penuh semangat, akan dapat menerapkan materi diklat yang telah diikuti.

 

Kata Kunci : Pembelajaran hebat

 

I. PENDAHULUAN.

 

A. Latar Belakang Masalah

 

Berdasarkan hasil evaluasi dalam pelaksanaan diklat di Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan sosial Yogyakarta, bahwa capaian peningkatan prestasi belajar antara pra tes dengan purna tes rata-rata masih dibawah 75 %. Oleh karena itu pelaksanaan pembelajaran di masa mendatang perlu terus ditingkatkan agar tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan efektif dan efisien. Salah satu upaya untuk mencapai hal tersebut antara lain dengan meningkatkan pelaksanaan pembelajaran yang hebat.

 

Untuk merealisasikan terciptanya pembelajaran yang hebat hal-hal yang perlu ditingkatkan antara lain proses penyusunan rancang bangun pembelajaran dan meningkatkan kapasitas fasilitatornya. Dalam tulisan ini hanya akan dibahas tentang bagaimana meningkatkan kapasitas fasilitator sehingga dapat menjadi lebih hebat.

 

B. Permasalahan.

 

Bagaimanakah memfasilitasi pembelajaran yang hebat bagi orang dewasa sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai secara efektif dan efisien ?

 

II. PEMBAHASAN

 

Apakah yang yang dimaksud dengan pembelajaran ? Menurut Dwi Deswary (2005), pembelajaran merupakan suatu rangkaian interaktif edukatif antara peserta diklat dengan widyaiswara dalam rangka mencapai tujuan atau kompetensi tertentu. Interaktif berarti two or multy traffic system, dimana kedua belah pihak berbuat secara aktif dalam suatu frame work dan frame reference/thinking yang dipahami oleh kedua belah pihak.

 

Sedangkan pengertian hebat, menurut Anita Moultrie Turner (2008), didefinisikan sebagai ampuh, sangat tinggi mutunya, terampil, memberi pengaruh besar. Jika menggunakan kata hebat pada arti pembelajaran seperti tersebut diatas dan lebih khusus lagi penerapannya pada fasiliator, maka dia memiliki kapasitas untuk melaksanakan semua ciri pribadi seperti yang didefinisikan itu, yaitu ampuh, sangat tinggi mutunya, terampil dan memberi pengaruh besar pada proses pembelajaran. Berikut ini beberapa hal yang dapat dilakukan fasilitator agar dapat menciptakan pembelajaran hebat, yaitu :

 

Pertama, penampilan percaya diri. Percaya diri merupakan hal pertama yang harus dipersiapkan oleh seorang fasilitator. Fasilitator pemula biasanya sering menghadapi rasa kurang percaya diri, apalagi peserta diklat yang dihadapi adalah orang-orang yang sudah senior, baik dari umur, jabatan dan kapasitasnya. Rasa kurang percaya diri bisa juga karena kurang menguasai materi yang disajikan. Kalau materi sudah tidak sedap, bagaimana akan dihidangkan. Menurut Sunarto (2008), untuk mengatasi rasa kurang percaya diri ada beberapa tips, yaitu :

 

1) Datanglah lebih awal sebelum peserta lengkap di ruangan. Lebih baik anda yang menatap lebih banyak wajah-wajah peserta yang memasuki ruangan dari pada anda yang ditatap oleh semua orang saat anda hadir belakangan. Ini akan sangat mempengaruhi mental anda sebagai fasilitator. Anda secara mental sudah menang satu point. 2) Kenalilah beberapa peserta secara baik. Ini dapat anda lakukan sesaat sebelum anda memulai sesi. Ngobrollah dengan mereka tentang apa saja secara akrab. Kenalilah nama-nama mereka. Ketika anda mulai sesi, nama-nama tersebut dapat sebagai contoh sekaligus “ menemani anda “ saat anda berdiri dengan peserta lainnya. 3) Jangan sekali-kali menggunakan kata pengantar : “ saya hadir dihadapan bapak ibu semua hanya dipaksa oleh panitia untuk menyajikan materi tersebut, saya kurang kemampuannya. Nanti kalau bertanya jangan sulit-sulit. Saya hanya mewakili si A dan sebagainya. Kata-kata tersebut hanya akan membuat anda diremehkan oleh peserta diklat. Kalau peserta meremehkan anda maka akan membuat mental anda menurun, seperti tidak memperhatikan, memberikan pertanyaan yang sifatnya menguji, dsb.

 

4) Persiapkan 3 M (materi, metode dan media) Persiapan yang baik akan sangat menentukan keberhasilan pelatihan. 5) Sebelum memulai sesi ada baiknya melakukan relaksasi dengan cara mengambil nafas dalam-dalam dan dihembuskan perlahan-lahan secara berulang-ulang. 6) Upayakan mengucapkan kata-kata yang tidak terlalu cepat. Semakin cepat kata-kata yang kita sampaikan selalin kurang bisa dipahami, sebenarnya menunjukkan ketidak tenangan kita dalam berbicara. 7) Manfaatkan peserta yang pandai untuk membantu presensi anda dan jangan anggap mereka adalah orang-orang yang justru akan menghambat anda. 8) Ada baiknya malam sebelum menyajikan materi kita berdo’a terlebih dahulu kepada Tuhan agar segala yang dilakukan keesokan harinya dapat berjalan sesuai dengan harapan dan memuaskan semua pihak.

 

Sedangkan menurut Dara Nayati (2010), kiat-kiat untuk membangun kepercayaan diri, antara lain meliputi : 1) Berani menerima tanggung jawab, 2) Kembangkan nilai positif, 3) Menghilangkan pengaruh negatif, 4) Pengakuan dan penghargaan, 5) Pujian, 6) Memanjakan diri, 7) Beranggapan baik terhadap diri sendiri, 8) Berani mengambil resiko, 9) Jadikan keresahan sebagai kawan, 10) Dapatkan input positif melalui panca indera. Kedua, Mampu berkomunikasi dengan baik.

 

Seorang fasilitator sudah semestinya dapat berkomunikasi yang sebaik-baik-baiknya dengan peserta diklat. Komunikasi di sini meliputi komunikasi verbal dan non verbal. Pesan non verbal ini meliputi : gerakan tubuh (gerakan kepala, lengan atau tangan), ekspresi wajah, atau gerakan tubuh lainnya. Menurut Anita Moultrie Turner (2008), ada empat faktor penting dalam ketrampilan komunikasi lisan yang dapat dipadukan

 

dengan sukses kedalam aktivitas sehari-hari diruang kelas, yaitu : postur, pantulan/intonasi suara, kontak mata dan kalimat lengkap. Ketiga, Menggunakan rasa cinta. Menurut Anita Moultrie Turner (2008), Bahan utama untuk menjadi guru yang hebat adalah cinta. Akan tetapi, kata sederhana ini menciptakan pengaruh yang mengandung banyak aspek pada kefektiffan dan kesuksesan di kelas. Cinta memang anugerah yang luar biasa dari Allah SWT. Karena dengan kekuatan cinta (The Power of love) segalanya bisa membuat luar biasa, termasuk dalam pembelajaran.

 

Seorang fasilitator dalam memfasilitasi pembelajaran yang hebat, perlu mengembangkan perasaan cinta lembut. Menurut Steve Biddulph dan Sharon Biddulph (2006), cinta lembut adalah kemampuan untuk bersikap relaks, hangat dan penuh perhatian. Sebagai fasilitator dalam memandu peserta diklat hendaknya bersikap relaks, hangat dan penuh perhatian, yaitu mengembangkan suasana kekerabatan tanpa jarak menegangkan dengan peserta diklat.

 

Untuk merealisasikan cinta dalam pembelajaran, pertama dimulai dari cinta terhadap diri sendiri. Anda harus mencintai diri sendiri sebelum melihat bahwa diri anda adalah sebagai pengaruh yang dinamis, sebagai pembimbing diruang kelas yang penuh hasrat, keinginan, mental dan semangat. Kedua cintailah peserta diklat seperti cinta seorang ibu terhadap anaknya. Apabila fasilitator bisa menerapkan dua hal tersebut maka pembelajaran akan berjalan dengan penuh keharmonisan.

 

Keempat, memberikan pujian. Menjadi fasilitator janganlah pelit untuk memberikan pujian, karena dengan pujian akan membawa dampak yang sangat besar bagi perkembangan prestasi seorang peserta diklat. Menurut Anita Moultrie Turner (2008), pujian mempengaruhi kesejahteraan intelektual, emosi dan spititual siswa.

 

Lilin tidak akan kehilangan cahayanya karena menyalakan lilin lain. Meperhatikan manfaat yang luar biasa dari pujian, maka pembelajaran yang hebat adalah apabila fasilitator selalu memberikan pujian kepada peserta diklat, khususnya dalam proses pelaksanaan pembelajaran di dalam kelas.

 

Masih menurut Anita Moultrie Turner (2008), ada 50 (lima puluh) pujian yang dapat diberikan kepada peserta diklat, yaitu : hebat, fantastik, cendekiawan, hore, jenius dalam bekerja, anda unik, teruslah bekerja dengan baik, tidak ada kegagalan, menakjubkan, usaha hebat, semakin bagus setiap hari, saya bangga padamu, luar biasa, jangan pernah berkata tidak pernah, brilian, jenius, sangat kreatif, ide bagus, bravo, luar biasa, terbaik di negara barat, kerja bagus, bagus sekali, anda sangat cerdas, hebat, pemikiran bagus, pencapaian hebat,

 

selalu kerjakan yang terbaik, pakailah topi pemikiran anda, super, bintang telah lahir, semakin baik tiap kali mencoba, jangan pernah menggunakan tidak bisa, sensasional, anda semakin baik, saya senang anda berpikir tentang hal itu, batasnya langit, percobaan yang baik, teruslah mencoba, usaha yang berani itulah pemenang, unggul, mengesankan, anda satu diantara sejuta, terbaik yang pernah kulihat, jawaban bagus, wow.

 

Berdasarkan pendapat tersebut diatas fasilitator dapat memilih dan memilah pujian mana yang pantas diberikan kepada peserta diklat. Tentu harus disesuaikan dengan kontek dan aktivitas yang sedang dilakukan oleh peserta diklat dalam eksplorasi pembelajaran. Dengan pembelajaran yang hebat dan dikomandoi oleh fasilitator yang hebat juga, maka tujuan pembelajaran akan tercapai secara efektif dan efisien. Dengan demikian peserta diklat yang kembali ke tempat tugas masing-masing dengan kepala tegak dan penuh semangat ia akan dapat menerapkan materi diklat yang telah diikuti, emoga !

 

III. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

 

D. Kesimpulan,

 

1) Fasilitator memegang peranan yang sangat penting dalam pembelajaran yang hebat, karena dia adalah figur sentral dalam pembelajaran.2) Langkah untuk mewijudkan pembelajaran yang hebat dilihat dari aspek fasilitator antara lain : Pen ampilan percaya diri, mampu berkomunikasi dengan baik, menggunakan rasa cinta, memberikan pujian.

 

E. Rekomendasi,

 

Kepada fasilitator, diharapkan dapat merancang bangun proses pembelajaran yang hebat demi tercapainya tujuan pembelajaran yang efektif dan efisien.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

1) Anita Moultrie Turner, 2008, Resep Pengajaran Hebat, Indeks, Jakarta. 2) Dara Nayati, 2010, Percaya Diri, Pentingkah itu, Wacana Widya, Edisi 10, Januari-Desember 2010, Ikatan Widyaiswara Indonesia Yogyakarta. 3) Dwi Deswary, 2005, Manajemen Pembelajaran, LAN RI, Jakarta. 4) Sunarto, 2008, Tips menjadi Fasilitator Idola, File:///D:/Tips 1 Menjadi Fasilitator Idola _ FASILITATOR IDOLA. Htm diakses 25 Juli 2015. 5) Steve Biddulph & Sharon Biddulph, 2006, Mendidik Anak dengan Cinta, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

 

* Uji Hartono, Widyaiswara BBPPKS Yogyakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *