SEGENAP LANGKAH MENUJU PILKADA LANGSUNG YANG DAMAI, EDUKATIF DAN BERNURANI

Ujian Demokrasi Kita

Demokrasi di Indonesia sekali lagi diuji dengan sebuah prosesi pemilihan kepala daerah langsung, yang dalam sejarah politik nasional, merupakan kali pertama hampir serentak di seluruh daerah menyelenggarakan hajat politik ini.

Oleh: Achmad Buchory, S.Sos Widyaiswara Pertama

Ujian Demokrasi Kita

Demokrasi di Indonesia sekali lagi diuji dengan sebuah prosesi pemilihan kepala daerah langsung, yang dalam sejarah politik nasional, merupakan kali pertama hampir serentak di seluruh daerah menyelenggarakan hajat politik ini.Mengapa saya menyebutnya sebagai sebuah “ujian” bagi demokrasi kita ? Saya lebih suka mengatakan bahwa pemilihan kepala daerah langsung (pilkadal) 2005 ini adalah peluang dan tantangan.

Alasannya karena pemilihan kepala daerah kali ini telah membuka kran tiraninya, dimana penguasa daerah biasanya adalah orang yang mendapat dhawuh dari “raja” di pusat. Kepala daerah merupakan “raja-raja kecil” yang notabenenya adalah antek-antek rezim yang teokrat dan anti demokrasi. Kini rakyat bisa menentukan sendiri siapa rajanya, atau minimal bisa berharap bahwa dengan dilibatkannya rakyat dalam pemilihan kepala daerah, membuka peluang bagi mereka untuk bisa diakomodasi aspirasinya.

Tetapi di sisi lain, hal ini justru bisa melahirkan raja-raja yang lebih tirani, karena sistem pilkadal yang mengacu pada UU no 32 tahun 2004 dan PP no 6 tahun 2005 ini, memungkinkan seorang kepala daerah yang terpilih nanti memiliki legitimasi yang sangat kuat, karena dia dipilih langsung oleh rakyat. Sehingga DPRD tingkat II tidak bisa seenaknya mengganti sang raja. Kalau yang terpilih adalah raja yang bisa mengayomi rakyatnya, adil dan jujur tidak jadi soal. Tetapi kalau yang terpilih justru raja yang arogan, sewenang-wenang dan dzolim kepada rakyatnya, maka ini bisa menjadi kiamat bagi demokrasi kita.

Pilkadal 2005 ini juga spesial, karena hampir seluruh daerah di Nusantara menyelenggarakan kegiatan ini.

Untuk Jawa Tengah saja ada sekitar 17 daerah (Blora, Boyolali, Kebumen, Kendal, Klaten, Pekalongan, Purbalingga, Sukoharjo, Semarang dll) yang menyelenggarakan pilkadal pada bulan Juni 2005. Salah satu dari daerah itu adalah kota kita yang tercinta Solo, yang akan mengadakan pemilihan pada tanggal 28 Juni Gubernur Jawa Tengah, H. Mardiyanto mengatakan kalau Solo merupakan daerah yang spesial dibanding dengan daerah yang lain dalam penyelenggaraan pilkadal ini. Spesial, karena suhu politik di Solo cenderung tidak menentu, kadang bisa naik kadang bisa turun. Gejolak politik di Solo sulit diprediksi. Ini bisa dipahami, karena Solo merupakan tempat bersemainya berbagai ideologi dan kepentingan. Masyarakatnya pun cukup dinamis.

Perisitiwa 1998, dimana banyak pasar, rumah, pertokoan dan bank yang terbakar, merupakan warning bagi pihak pemerintah untuk lebih berpikir keras menjaga stabilitas di kota Solo. Tetapi, pengalaman pilpres kemarin, dimana Solo relatif adem-ayem, merupakan angin sejuk yang juga harus senantiasa diciptakan oleh para stake holder di Solo. Hal inilah yang mendorong pihak aparat keamanan untuk menerjunkan anggotanya dalam jumlah yang cukup besar untuk mengawal pilkadal di Solo.

Pilihan Tepat Mahasiswa

Mahasiswa selaku komponen masyarakat yang selama ini selalu di garda terdepan dalam mendorong kereta demokrasi di Indonesia, tidak akan tinggal diam menyikapi pilkadal kali ini. Mahasiswa juga punya kepentingan terhadap pemilihan kepala daerah. Kepentingan mahasiswa adalah satu, yaitu keadilan. Mungkin terasa abstrak dan terkesan klise bagi sebagian orang, tetapi itulah idealisme kami yang akan selalu kami jaga dan pertahankan. Sejarah telah membuktikan bahwa mahasiswa adalah detergen yang membersihkan demokrasi dari noda-noda korupsi, money politik, arogansi, dan praktek-praktek culas lainnya.

Keadilan bagi kami adalah lahirnya pemimpin yang melayani, bersih dan amanah. Pemerintahan yang akomodatif, transparan dan profesional. Masyarakat yang sejahtera, tidak termarginalkan, dan memiliki keleluasaan untuk menyampaikan aspirasinya. Inilah cita-cita kami, mahasiswa. Karena itulah kami ingin berperan dalam pilkadal ini untuk bisa mencapai cita-cita itu.

Bagi kami BEM UNS, menjadi panggilan nurani tersendiri untuk membawa pilkadal Solo 2005 ini menuju cita-cita di atas. Kampus saat ini masih menjadi prime reference bagi kebijakan politik di lokal dan nasional. Secara tegas kami ingin mencipatakan pilkadal yang damai, edukatif dan bernurani. Itulah slogan yang senantiasa menyemangati kita dalam bergerak.

Damai artinya kita ingin agar pelaksanaan pilkadal yang untuk pertama kalinya dengan pemilihan langsung ini tidak menimbulkan konflik horisontal di masyarakat, jauh dari arogansi dan segala hal yang mengganggu kenyamanan dan ketrentaman di masyarakat. Para cawali dan pendukungnya diharapkan memahami falsafah kultural jawa yaitu legowo (lapang hati) dalam menerima hasil pilkadal ini. Edukatif artinya kita ingin memberikan pendidikan politik bagi rakyat Solo. Sudah saatnya pilkadal tidak hanya diwarnai dengan huru-hara knalpot sepeda motor, tetapi kita ingin membiasakan masyarakat untuk berfikir cerdas.

Menarik kegiatan-kegiatan jalanan (outdoor) menjadi kegiatan-kegaiatan di dalam ruang (indoor) yang lebih elegan. Bernurani maksudnya adalah rakyat diminta untuk memberikan pilihannya dengan hati nurani, tidak mudah menerima suap, atau ajakan-ajakan yang melanggar kebebasan pribadi untuk berfikir dan menentukan pilihan. Pilihan gerakan yang akan diambil oleh BEM UNS tidak hanya sekedar berkutat pada diskusi dan pewacanaan saja, tetapi kita harus mampu terlibat secara langsung mengambil peran di dalam proses pilkadal. Bahkan kalau perlu kita masuk ke dalam lingkaran elemen pilkadal secara resmi.

Posisi yang memungkinkan bagi mahasiswa dalam lingkaran elemen itu adalah menjadi Lembaga Pemantau Independen. Untuk itu bersama-sama dengan BEM FISIP, FKIP, FMIPA, FT, FE dan FP UNS kita secara resmi mendaftarkan diri ke KPU Kota Solo, dan telah mendapatkan akreditasi tertanggal 5 April 2005.

Ketua KPUK Solo, Eko Sulistyo mengatakan bahwa Forum BEM UNS merupakan organ pertama yang mendaftar sebagai lembaga pemantau independent. Kenapa BEM UNS begitu “agresif” mendaftarkan dirinya menjadi lembaga pemantau independent ?

Pertama, kontribusi yang akan diberikan terhadap pilkadal akan semakin riil dan mengena jika kita resmi masuk. Suara kita akan didengar, baik oleh KPUK, Panwaskot, bahkan oleh para cawali yang nantinya akan bersaing dalam pilkadal ini. Kalau kita hanya mengandalkan gerakan pewacanaan dan aksi-aksi jalanan niscaya kita hanya akan dianggap angin lalu.

Ketika para bawali kota Solo mendengar BEM UNS menjadi pemantau independent, banyak diantara tim sukses mereka berusaha untuk menggandeng BEM UNS agar tidak lagi independen. Mereka takut kalau “jago” yang dielus-elusnya, gagal maju menjadi walikota gara-gara suara “anak-anak” kampus.

Jatuhnya rezim Soeharto–sebuah rezim yang sangat kuat sekali–melalui tangan mahasiswa merupakan pressure politik yang cukup ampuh, sehingga banyak pejabat ataupun calon pejabat yang mulai memperhitungkan kekuatan mahasiswa.

Kedua, dengan masuknya kita secara resmi menjadi lembaga pemantau independen, akan menghindari sekaligus melindungi kita dari benturan-benturan politik yang sering berklanjut ke aksi premanisme dari massa cawali yang kalah atau merasa dirugikan.

Kita memiliki payung hukum yang kuat, dan memiliki bargaining potition yang jelas. Orang tidak bisa main seenaknya dengan mahasiswa, apalagi sampai melakukan tindakan-tindakan di luar aturan hukum maupun perundang-undangan.

Program yang Ditawarkan Mahasiswa

Lembaga Pemantau Independent Forum BEM UNS memiliki banyak sekali kegiatan. Pertama, kami akan menerjunkan kurang lebih 700 relawan (asumsi 1400 TPS di kota Solo) yang tersebar di berbagai TPS untuk melakukan pemantauan secara langsung proses pemungutan suara, perhitungan sampai kepada penetapan. Kita akan melakukan model perhitungan dan pengolahan data Quik Qown, dimana para relawan melalui pesawat 3011 akan mampu mengirimkan data perhitungan suara di sebuah TPS dengan cepat ke pusat tabulasi yang berlokasi di kantor pusat komputer UNS.

Untuk itu kami bekerjasama dengan Indosat dan Puskom UNS agar mereka mengolah data tersebut sehingga mudah dan cepat untuk diakses oleh masyarakat. Agar masyarakat dapat menikmati data ini kami bekerjasama dengan Terang Abadi TV, agar menayangkan setiap satu jam sekali hasil perhitungan kami. Kedua, disamping pusat tabulasi, kami juga akan mendirikan posko pengaduan masyarakat terkait pilkadal.

Posko itu nantinya bisa digunakan opleh siapapun untuk mengadukan keluahan-keluhan, saran, pelanggaran-pelanggaran yang berkaitan dengan pilkadal. Aspirasi-aspirasi ini nantinya akan kami teruskan kepada pihak-pihak terkait di pilkadal. Ketiga, kami juga melakukan penelitian dan pengembangan tentang berbagai hal terkait pilkadal. Sebagai contoh sebuah penelitian kita tentang perilaku pemilih, yang menunjukkan bahwa hampir 76 % rakyat Solo menghendaki cawali lulusan Sarjana.

Penelitian ini telah kami sampaikan ke beberapa media cetak di Solo, dan kami tridak berhenti sampai di sini saja, tetapi kami akan meneliti lagi data-data terkait pilkadal, termasuk diantaranya adalah track record para cawali.

Disamping berbagai kegiatan di atas kami juga menyelenggarakan debat cawali, dimana debat itu akan diformat seperti debat pilpres 2014 kemarin. Debat cawali itu akan diselenggarakan setelah KPUK menetapkan calon walikota secara resmi. Dalam debat itu akan menghadirkan para panelis dari akademisi yang bergerak di bidang hukum-politik, ekonomi dan sosial-budaya serta terbuka untuk semua lapisan masyarakat.

Debat ini juga merupakan bagian tak terpisahkan dari pendidikan politik bagi rakyat, dsiaman kita akan memeberikan informasi seluas-luasnya tentang para calon yang akan bertanding, agar masyarakat tidak terkesan membeli kucing dalam karung.

Berbagai kegiatan di atas telah kami rangkum dalam sebuah kemasan wadah dengan nama “PILKADAL CENTER 2014”, dan wadah ini telah kami launching pada tanggal 11 April 2005 di ruang sidang 4 rektorat, yang dihadiri oleh para pasangan cawali, KPUK, Polres, Rektorat dan mahasiswa serta media.

Bahkan dalam acara itu kami sekaligus menandatangani deklarasi pemilu damai dan siap menang siap kalah. Harapan kita agar program Pilkadal Center BEM UNS ini mampu menjadi alternative kegiatan dalam menyambut dan mengawal pilkadal menuju Solo yang lebih baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *